PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK

www.trenggalekkab.go.id

  • Facebook
  • Twitter
  • Youtube
  • Printer
LINK DOWNLOAD PANDUAN siMAYA, SENIN 17 JULI 2017

Dibuat pada: 2017-09-04 08:35:40 - 174 Hits

Puncak Peringatan Hari Jadi Trenggalek ke-823 ditutup dengan Prosesi Kirab Pusaka

Kirab Pusaka meriahkan puncak peringatan hari jadi Kabupaten Trenggalek ke 823 yang rutin diperingati setiap tahun tanggal 31 Agustus.  Tahun ini peringatan Hari Jadi Kabupaten Trenggalek berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pasalnya tahun ini Kereta Kencana yang didatangkan langsung dari Kraton Surakarta, Kamis (31/8).  Kereta yang di tarik oleh 8 kuda ini dikendarai oleh Bupati Trenggalek Dr.Emil Elestianto Dardak, M.Sc beserta istri Arumi Bachsin dan kedua putra-putrinya, bak raja dan ratu Bupati Trenggalek yang menaiki kereta kencana menarik perhatian masyarakat Trenggalek untuk menyaksikan kirab yang dimulai dari jalan R.A Kartini hingga Pendhapa Agung Manggala Praja Nugraha.

 
Usai tiba di depan SMPN 3 Trenggalek, Kereta Kencana yang datang langsung di ikuti oleh para pembawa Payung Pusaka dan Tombak Korowelang yang sebelumnya dikirab dari Desa Kamulan untuk dilanjutkan dikirab secara jalan kaki oleh para tokoh sesepuh.  Secara beriringan pasukan  pembawa pusaka, pasukan pembawa kendi Tirto Amertosari
yang berisikan air dari 14 sumber mata air, pasukan pembawa foto pasangan Bupati dan Wakil Bupati pertama hingga saat ini, dan pasukan pembawa tumpeng agung, dan pasukan nayaka praja ( Kepala Sekolah ) berjalan dari SMPN 3 Trenggalek memutari Alun-Alun hingga tiba di Pendhapa.
 
Pusaka yang dikirab sehari sebelumnya telah melalui proses jamasan atau dibersihkan dengan serangkaian ritual dan doa.  Sebelum dijamas Bupati Trenggalek menyerahkan tombak pusaka kepada penjamas untuk selanjutnya di basuh dengan air yang telah diambil dari 14 mata air sebagai simbol dari 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Trenggalek.  
 
Dua tombak yang dibersihkan menggunakan air dan jeruk purut lantas diolesi minyak khusus dengan maksud menjaga pusaka dari kotoran-kotoran yang dapat menempel dan merusak pusaka tersebut.  Usai prosesi jamasan, pusaka yang telah dibersihkan lalu di titipkan selama satu malam menuju Kamulan Trenggalek sebelum esoknya di kirab.
 
Sesampainya di Pendhapa, Bupati beserta istri disambut dengan tarian Bedoyo Nitisari, tarian ini menggambarkan bunga desa yang bernama nitisari.  Nitisari adalah sosok perempuan cantik dari suatu desa di Kecamatan Panggul yang dipinang oleh seorang raja yang melawan penjajah.  Selanjutnya prosesi di isi dengan pembacaan sejarah Kabupaten Trenggalek, sejarah Trenggalek yang dibacakan dimulai dari terbentuknya Kabupaten Trenggalek dari jaman kuno hingga para pemimpin-pemimpinnya yang membawa Trenggalek menjadi maju seperti saat ini.
 
Satu hal yang ditunggu-tunggu oleh warga yang menyaksikan kirab pusaka adalah gunungan tumpeng.  Gunungan Tumpeng yang berisikan nasi kuning, ayam lodho dan sebagainya ini adalah sebagai wujud sukur kepada Tuhan Maha Esa yang telah memberikan nikmat dan keselamatan bagi seluruh warga Trenggalek.  Warga yang berkerumun mendekati gunungan tumpeng bersiap memperebutkan sajian yang ada dalam tumpeng dan air jamasan pusaka, yang diyakini oleh masyarakat setempat dapat membawa keberkahan.  Serangkaian prosesi ritual yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini pada intinya adalah mengajak masyarakat Trenggalek untuk menjaga kelestarian adat dan budaya yang menjadi dasar kearifan lokal Kabupaten Trenggalek. (Diskominfo Trenggalek)

Video Prosesi Kirap Pusaka