PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK

www.trenggalekkab.go.id

  • Facebook
  • Twitter
  • Youtube
  • Printer

Dibuat pada: 2018-06-25 10:48:13 - 3662 Hits

JADI TRADISI TAHUNAN, LEBARAN KETUPAT 1439H MAKIN MERIAH

Kupatan atau lebaran ketupat, tradisi tahunan yang rutin digelar menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perayaan hari raya Idul Fitri bagi masyarakat Trenggalek.  Tahun ini perayaan kupatan di hari raya Idul Fitri 1439H berlangsung sang

at meriah, Jumat (22/6).  Beberapa titik lokasi salah satunya Durenan sebagai daerah pencetus tradisi kupatan dipadati pengunjung dari daerah lain dengan begitu meriahnya.

 

Kentalnya budaya silaturahmi yang tertanam pada tradisi ini menjadikan magnet tersendiri bagi masyarakat.  Tamu silaturahmi yang datangpun silih berganti mengunjungi dari satu rumah kerumah lainnya untuk berbincang hangat sekaligus menyantap kudapan ketupat sebagai pelengkap wajibnya.  Esensi dari kupat atau ngaku lepat (memohon maaf) begitu terasa ditengah kehangatan silaturahmi yang berlangsung di berbagai titik di Kabupaten Trenggalek.

 

Plt.Bupati Trenggalek H.Moch Nur Arifin beserta rombongan beberapa pimpinan OPD juga ikut  memeriahkan tradisi khas Trenggalek ini.  Dimulai dari silaturahmi kediaman Gus Fattah di Durenan, dilangsungkan pawai ketupat berupa gunungan yang diarak mengelilingi area sekitaran pondok Babul Ulum. Usai dari pondok Babul Ulum lantas rombongan bergeser untuk seliaturahmi di Pondok Tengah Kamulan.

 

Selanjutnya rombongan Plt.Bupati melanjutkan perjalanan silaturahminya menuju kediaman Plt.Sekda Trenggalek  Drs.Kusprigianto, M.M, lantas di kediaman Gus Hari dan berakhir di kediaman Pak Mahsun Ismail yang pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Trenggalek selama 2 periode.

 

Saat dikonfirmasi mengenai sejarah tradisi kupatan, Plt.Bupati menjelaskan bahwa tradisi ini bermula dari kisah seorang ulama yang selalu melaksanakan puasa syawal.

 

"Ini kan tradisi sudah tahun menahun dan memang generik dari masyarakat.  Dulu ada seorang ulama kharismatik yang beliau ini selalu puasa syawal setelah menjalani puasa ramadhan.  Dan kemudian karena tamu-tamu ini sungkan  diaturi makan kok beliaunya sendiri berpuasa akhirnya masyarakat merayakan lebaran ini setelah syawal yang 6 hari itu," jelas Plt.Bupati

 

Plt.Bupati juga menambahkan bahwa Pemkab Trenggalek telah memberikan dukungan penuh supaya tradisi tahunan ini semakin meriah.  Wujud dukungan itu adalah lomba hias desa saat menyambut lebaran dan lebaran ketupat, bagi desa yang terbaik dalam menghias akan diberikan hadiah.  Apresiasi hadiah yang diberikan ini semata-mata untuk memberikan rangsangan bagi masyarakat agar tradisi kupatan semakin meriah. Diskominfo Trenggalek