Sapa Masyarakat di Akir pekan, Mas ipin Hadiri Mancing Mania di Watulimo Hingga Festival Banyu Sekoro di Panggul

berita

22 March 2022

109
Sapa Masyarakat di Akir pekan, Mas ipin Hadiri Mancing Mania di Watulimo Hingga Festival Banyu Sekoro di Panggul

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin hadiri dua kegiatan di Kecamatan Watulimo dan Panggul pada akhir pekan Minggu Pagi (20/3/2022). Menempuh perjalanan dari pesisir timur ke ujung barat Trenggalek, Bupati muda ini sekaligus mencoba rute yang rencananya akan tersambung menjadi Jalur Lintas Selatan (JLS).

Saat tiba di Watulimo, Bupati manandai dimulainya Turnamen Mancing Mania yang digelar kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi. Disamping sebagai sarana promosi wisata, turnamen yang diikuti puluhan pemancing dari berbagai daerah tersebut juga ditujukan untuk penggalangan dana pembangunan Masjid

"Patut disyukuri karena kalau di pesisir yang lain mungkin tidak ada yang berkahnya sebesar di Teluk Prigi, karena biasanya kalau ada kampung nelayan atau aktivitas nelayan biasanya pariwisatanya kurang bagus," ungkap Bupati.

"Tapi kita ini sudah kampung nelayan, pesisirnya masih bersih, kemudian pariwisatanya juga sangat cantik, sangat bagus, jadi ini yang perlu kita syukuri, dan ini juga pertanda bahwa masyarakat di pesisir pendapatannya tidak hanya sekedar dari mencari ikan sebagai nelayan tetapi juga bisa ikut terlibat dalam sektor pariwisata," lanjutnya.

Selepas dari Watulimo, kegiatan dilanjutkan bergeser ke Panggul menghadiri Festival Banyu Sekoro di Desa Terbis. Festival ini merupakan ritual adat dengan tujuan menjaga sumber mata air yang ada di wilayah tersebut tetap terjaga. Festival Banyu Sekoro juga digelar untuk memperingati hari air sedunia.

Menurut Mas Ipin, terkadang formalitas atau aturan tidak akan bisa begitu kuat mengakar di masyarakat. Berbeda halnya jika dilakukan dengan pendekatan budaya. Hal itu sebagaimana ritual yang dilakukan pada Festival Banyu Sekoro. Bagaimana menyikapi isu perubahan iklim dengan pendekatan kebudayaan.

"Kalau dulu dibilang air sumber kehidupan, air harus kita jaga, itu mungkin tidak semua orang bisa memahami, tetapi kalau dibilang di sini tempatnya ada yang menunggu dan bisa marah kalau tidak dijaga, itu terkadang bisa menjaga sumber-sumber air kita punya," jelas Bupati.

"Padahal mungkin secara scientific seperti yang kita lakukan ada prosesi nyadran kemudian dengan persembahan hewan ternak yang disembelih lalu dikuburkan, yang namanya makhluk hidup dikubur kemudian terurai akan menambah unsur hara dalam tanah," sambungnya.

"Kalau unsur haranya baik ya nanti ditanam apapun akan baik, akar-akarnya kuat sehingga kemampuan menyimpan air juga baik, sehingga sebenarnya secara scientific pun yang dilakukan nenek moyang kita dulu juga beralasan," tandasnya. Diskominfo Trenggalek