Sempat Gagal Tiga Musim, Petani di Wonoanti Trenggalek Kini Berhasil Panen Setelah Terapkan Mekanisasi Pertanian

berita

03 November 2022

38
Sempat Gagal Tiga Musim, Petani di Wonoanti Trenggalek Kini Berhasil Panen Setelah Terapkan Mekanisasi Pertanian

Masyarakat Desa Wonoanti Gandusari yang tergabung dalam kelompok Tani Sri Sedono menggelar labuh panen padi di areal persawahan desa setempat.

Dihadiri langsung oleh Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, musim panen padi kali berlangsung cukup meriah. Mengingat pada 3 musim tanam padi sebelumnya para petani sempat mengalami gagal panen.

Keberhasilan musim tanam kali ini tentu berkat inovasi mekanisasi pertanian yang diluncurkan Pemkab Trenggalek dengan menggandeng platform teknologi pertanian, PT. MAXXI Tani.

 


 

Sehingga dengan mekanisasi pertanian ini, mulai dari tahap pembibitan, pemupukan, panen, hingga dimulainya penanaman kembali. Petani mendapatkan pendampingan untuk mendapatkan hasil panen yang lebih optimal dengan modal seminimal mungkin.

"Hari ini kita melaksanakan panen di Dusun Krebet Desa Wonoanti bekerjasama berkolaborasi dengan MAXXI Tani. Alhamdulilah hasilnya menggembirakan" tutur Bupati Nur Arifin usai memanen padi bersama petani Desa Wonoanti, Kamis (27/10/2022).

Pria yang akrab disapa Mas Ipin ini melanjutkan, "Karena masyarakat disini tadi menurut obrolan yang kita lakukan sudah 3 kali musim tanam tidak panen sama sekali dan begitu ada MAXXI Tani alhamdulilah bisa panen," sambungnya.

 


 

Lebih lanjut, Ini tadi setelah diukur per hektanya 5.98 ton. Jadi cukup baik ditengah mengingat 3 musim yang lalu tidak panen sama sekali, dan sekarang bisa hasil 5.98 itu bahagia sekali saya," terangnya.

Kemudian Bupati juga menyebut kerjasama bersama MAXXI Tani ditargetkan bisa terus meningkat sampai 1.000 hektare. "Saya berpesan kepada MAXXI Tani bahwa urusan pangan ini adalah urusan kestabilan bangsa," tegasnya.

"Jadi negara ini ricuh atau aman tergantung pangan, dan kalau kita tahu pangan harga komoditas jangan sampai terus-terusan naik. Jadi biar inflasi juga terkendali," tegas Mas Ipin.

 


 

"Makanya yang saya pesan, kalau mau bantu petani bantulah petani untuk bertani dengan modal semurah-murahnya, sudah itu saja," ungkap Mas Ipin.

Untuk itu, pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan margin dan bukan lagi pendekatan bagaimana dapat menjual nilai gabah setinggi-tingginya.

"Jadi yang penting sekarang adalah biaya bertaninya lebih murah, karena tadi buruh tani itu per musim mereka bisa mengeluarkan uang sampai 2 juta hanya untuk membiayai buruh tani," ujar Mas Ipin.

 


 

"Kalau di konversi dengan alat yang dari MAXXI Tani biayanya bisa lebih murah, semprot-semprot bisa pakai down sprayer, kemudian tanamnya sudah bisa pakai combine harvester dan segala macam. Jadi tentu dengan mekanisasi bisa lebih mudah," ucap Bupati Trenggalek itu.

"Tetapi tantangannya kemudian banyak sekarang buruh tani yang tergantikan dengan mesin, ini yang kemudian kebanyakan perempuan itu sekarang beralih usaha menjadi pengrajin. Macam-macam kerajinannya ini yang perlu kita bina dan kita carikan pasarnya," pungkasnya. Diskominfo Trenggalek