Wabup Mas Syah Apresiasi Upaya Pelestarian Budaya Dalam Festival Jajar Gumregah 2022

berita

30 June 2022

260
Wabup Mas Syah Apresiasi Upaya Pelestarian Budaya Dalam Festival Jajar Gumregah 2022

Wakil Bupati Trenggalek, Syah Muhamad Natanegara buka Festival Jajar Gumegrah Tahun 2022 di Kecamatan Gandusari Sabtu (25/6).

Mas Syah sapaan akrabnya, berikan apresiasi terhadap upaya pelestarian budaya dan kearifan lokal yang dimiliki Desa ini. "Tentunya saya bangga, budaya dan segala kearifan lokal dijaga betul. Tentunya ini sebuah kekayaan yang diwariskan oleh lelehur yang patut kita jaga," tutur Wabup Syah.

Wabup juga menyatakan dukungan atas apa yang dilakukan dan dicita-citakan oleh Desa Jajar sesuai slogan Jajar Gumregah. Berawal dari sebuah jargon, dharapkan budaya sebagai pancatan untuk maju dan berkembang.

Jajar Gumregah sendiri merupakan sebuah slogan yang ditujukan menjadi spitt menyongsong kemajuan. Kepala Desa (Kades) Jajar, Imam Makaryo Edi atau yang erat disapa Ime itu ingin membawa perubahan yang lebih baik bagi Desanya.

Kini "Jajar Gumegrah" menjadi sebuah festival rutin tahunan yang ditujukan mengenalkan seluruh kearifan lokal yang ada. Tema kali ini "Bebrayan Ngrumat Kabudayan" yang artinya bersama sama melestarikan kebudayaan kearifan lokal.

Untuk mengembangkan Desanya Jajar kali ini tidak sendiri. Ada KKN Desa Berkelanjutan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung yang ikut membantu menggali potensi dan menguatkan potensi Desa yang ada. Bahkan KKN Desa Berkelanjutan UIN Sayyid Ali Rahmatullah telah membuat peta potensi Desa dengan harapan potensi yang ada bisa difokuskan sesuai pemetaan yang ada.
 


 

Selain itu juga ada banyak kegiatan lain, seperti pendirian rumah baca, warga Jajar melek digitalisasi dan masih banyak yang lainnya, yang disampaikan oleh Prof. Ngainun Na'im, Ketua Lembaga Pengabdian dan Penelitian Kepada Masyarakat di sela-sela pembukaan festival ini.

Budaya kearifan lokal yang dimiliki Desa ini diantaranya ada Megengan Show yang artinya menahan hawa nafsu menghadapi bulan suci Ramadhan. Megengan Show sendiri merupakan agenda rutin tahunan Desa ini. Tradisi yang biasanya erat dengan kegiatan kenduri dikemas menjadi sebuah pagelaran seni yang menarik menghadapi Ramadhan.

Dalam acara itu ada arak ambeng atau sedekah masyarakat yang di iring shalawatan. Kemudian Pementasan Salalahuk (shalawat jawa yang masih terjaga lantunannya). Salalahuk sendiri merupakan shalawat ikonik yang dilakukan setiap bulan suci (selepas Tarawih) dengan iringan bedug atau yang dikenal masyarakat sekitar dengan sebutan Jedor.

Salalahuk sendiri merupakan serapan bahasa Arab "shollalahu" yang dilafalkan orang jawa dengan sebutan itu. Kemudian Jamasan yang artinya (keramas) atau penyucian. Disini yang disucikan bukannya pusaka, melaikan manusianya itu sendiri. Karena warga masyarakat disana meyakini manusia itu sendiri sebuah pusaka dan bilamana tidak disucikan maka akan hilang kekeramatannya.

Selain megengan show dan jamasan ada kesenian Tiban (tari pemanggil hujan) yang kini sudah mulai dianggap sebagai seni pertunjukan dan masih banyak seni, budaya kearifan lokal lainnya. Banyaknya budaya yang dilestarikan, Desa ini seolah berhulu pada budaya. Maka dari itu Desa ini meletakkan pondasi Desanya melalui budaya. Diskominfo Trenggalek